Black box…

January 26, 2007

hari ini ada berita kalo black box-nya burung besi KI-574 di-temukan…tapi Indonesia punya masalah nggak bisa ngangkat tuh black box…kata-nya harus pake teknologi-nya orang2 western sana…

anyway, sebener-nya apa itu black box…? black box adalah salah satu alat pada sarana transportasi  yg di-gunakan untuk me-rekam data penerbangan atau me-rekam percakapan di cockpit pesawat…atau bisa jg untuk me-rekam kejadian2 dalam satu rangkaian kereta api ber-mesin diesel (emang ada di kereta api Indonesia…? eh, kata-nya kereta api tapi kok diesel…? emang susah bahasa kita ini…) ataupun pada saran transportasi lain-nya…

nama-nya boleh "black box" tapi ter-nyata warna-nya nggak item…black box punya warna orange…kenapa orange…? supaya mudah buat di-kenalin seandai-nya terjadi satu kecelakaan…warna orange akan terlihat ber-beda sekali dgn warna sekitar…teori-nya sih begitu…lalu kenapa di-kasih nama "black box"…? ini kutipan dr wiki:

In an interview with ABC TV (Australia) George Negus Tonight :: future (Episode 14 The Black Box - broadcast 6.30pm on 08/05/2003) Dr David Warren (inventor of the Flight Data Recorder) stated "It was called black box because in the records of my meeting in London when it was first demonstrated and they were so keen, one of the people in the discussion afterwards said, "This is a wonderful black box." And a black box was a gadget box. You didn’t have to understand it but it did wonderful things."

anyway, mudah2an yg di-temuin di SW Majene itu beneran black box-nya Adam Air KI-574 dan bisa di-angkat ke permukaan…

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Pesawat Adam Air KI-574 Tidak Meledak Di Udara: Sebuah Opini dr Canny Watae (warga biasa yg tinggal di Makassar) bag. 3

ini adalah tulisan ketiga dr Pak Canny…tulisan pertama ada di sini…tulisan kedua ada di sini…semua gue copy atas ijin langsung dr Pak Canny…tulisan ketiga ini sebener-nya gue dapet dalam satu imel dgn tulisan kedua…tapi karena nge-bahas hal yg beda maka-nya gue pisah-in semata biar kita bisa fokus sama bahasan masing2 aja… 

SAR Mission Coordinator Edi Suyanto mengumumkan penemuan baru dalam usaha pencarian Adam Air KI-574 yang raib sejak 1 Januari lalu. Avtur. Ada avtur (bensinnya pesawat terbang) yang terpantau oleh awak Fokker-50 AU Singapura di perairan Majene. Minyak itu diyakini avtur (bahan bakar pesawat) dari Adam Air. Dari pemantauan udara, tumpahan minyak tersebut terlihat mulai dari titik koordinat 03 44 029 S-118 33 983 T sampai titik koordinat 03 32 88 5 S-118 40 995 T. Minyak itu terus bergerak dari arah utara menuju ke selatan (Fajar, 15/1). Apakah bangkai KI-574 ada dalam radius dekat dari avtur itu?

Bagi saya, waktu, posisi, dan bentuk avtur itu ketika adalah  sebuah fenomena. Untunglah Mission Coordinator Edi merinci “bentuk” avtur itu dari udara. Bahan bakar pesawat itu membujur utara ke selatan. Di sinilah menurut saya kunci berikutnya yang menguatkan dugaan bahwa KI-574 teronggok di dasar laut perairan Mamuju.
Posisi avtur ketika terdeteksi oleh awak Fokker-50 AU Singapura berada di selatan lokasi sonar KRI Fatahillah. Mengapa di selatan? Arus laut selat Makassar menurut BMG adalah utara ke selatan. Jadi avtur itu terbawa arus dari utara ke selatan, bukan dari arah sebaliknya. Posisi avtur ketika terdeteksi itu masih lebih utara dari posisi lepas pantai Parepare dan Barru yang kini dijadikan konsentrasi pencarian. Logikanya, jika avtur berasal dari lepas pantai Parepare dan Barru maka ia akan terdeteksi di perairan Pangkep, Maros, atau Makassar, atau lebih ke selatan lagi.

Apakah avtur jatuh dari langit, dari atas perairan Barru/Pangkep lalu ia tertiup angin dan jatuh di perairan Majene? Tidak. Avtur akan menguap di udara sesaat setelah ia terlontar ke udara.

(more…)

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Pesawat Adam Air KI-574 Tidak Meledak Di Udara: Sebuah Opini dr Canny Watae (warga biasa yg tinggal di Makassar) bag. 2

OK, ini adalah tulisan kedua dr Pak Canny…tulisan pertama gue copy di sini…tulisan kedua ini membahas peran tail horizontal sebelah kanan pesawat yg ada di belakang yg di-temu-in sama nelayan Baharuddin…di-tulis Senin 22 Januari 2007, 4 hari yg lalu…gue dapet forward-an dr temen se-kantor: ari…thanks, ri…

Ok then… Firstly, tolong dipahami bahwa saya ini bukan orang penerbangan. Paling banter jadi penumpang pesawat aja. Ingin sekali, sekali-sekali, nginjak Kokpit tapi apa daya, sebelum 9/11 WTC aja aturannya gak bisa. Apalagi setelahnya J. Bekal pengetahuan terbanyak yang saya bawa dalam menulis artikel itu adalah komik Tanguy and Laverdure (Thanks God udah ada filmnya tahun lalu), dua penerbang jet tempur Perancis, yang piawai “berbagi” pengetahuan penerbangan bahkan pada ukuran anak SD seperti saya tahun 80-an lalu.

Menggunakan Google Earth versi gratisan, saya mencoba mem-plot titik-titik kesaksian warga, titik di mana pesawat kehilangan kontak/lepas dari pantauan radar ATC, dan titik-titik di mana KRI Fatahillah mendeteksi keberadaan logam di dasar laut. Saya mendapati sebuah bayangan lintasan KI-574 yang paling tidak “terakomodir” oleh semua:  testimoni warga, titik temuan KRI Fatahillah, dan kenyataan medan 3 dimensi hasil pencitraan Google Earth.

Dengan Google Earth, saya mencoba “terbang” menapak-tilasi lintasan itu. Altitude (ketinggian) saya set sedikit di bawah 8.000 feet (ketinggian 8.000 feet menurut ATC Makassar adalah ketinggian minimum yang bisa mereka pantau, sayang mereka tidak menjelaskan 8.000 feet itu pada titik berapa mil dari Makassar. Menurut hemat saya tentu pada jarak dekat ketinggian pantau bisa lebih rendah lagi). Mengikuti lintasan itu, hasilnya… eh, kok “pesawat”ku cerdas ya. “Pesawat” yang saya kemudikan cenderung menghindari pegunungan yang ada sekian kaki saja di bawahnya. Saya membayangkan pilot Revri memainkan kemudi pesawatnya di tengah-tengah teriakan doa para penumpang. Saya lalu meng-over lay peta Sulawesi yang lengkap dengan nama-nama desa, kabupaten, kota, dll di atas titik-titik tersebut sekedar untuk mem-verifikasi nama-nama lokasi. Saya terkejut mendapati bandara Pongtiku Toraja dan Tampa Padang Mamuju secara “kebetulan” berada di sekitar lintasan. Khusus bandara Pongtiku, posisinya berdekatan (15 – 20 Km) dari posisi sinyal ELBA yang dilansir RCC Singapura. Sayang kualitas citra  di Google Earth versi gratisan untuk daerah Toraja tidak tajam. Tetapi kalkulasi garis lintang dan bujur, dan altitude tetap beroperasi normal (Thank to Google).

(more…)

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Pesawat Adam Air KI-574 Tidak Meledak Di Udara: Sebuah Opini dr Canny Watae (warga biasa yg tinggal di Makassar) bag. 1

seperti lazim-nya orang2, awal-nya gue terima tulisan ini dr imel dua temen se-kantor: dewi & ari…bahkan ari sempet ber-korespondensi sama Pak Canny Watae…sebuah analisa dr orang biasa (begitu pengakuan Pak Canny) tapi bisa di-pertanggung jawab-kan berdasarkan data2 & fakta2 di lapangan terutama kesaksian2 dr masyarakat sekitar tempat hilang-nya burung besi KI-574 ini…sangat bagus buat kita2 yg awam segala sesuatu-nya tentang masalah penerbangan dan berada di luar lingkungan pejabat pemerintahan…atas persetujuan langsung dr Pak Canny, hari ini gue copy tulisan beliau di sini…

isi tulisan sama sekali nggak gue edit, gambar2-nya pun sama sekali nggak gue kecil-in…penampilan-nya aja yg sedikit gue ubah semata2 untuk ke-nyamanan kita mem-baca dan meng-analisa gambar2-nya aja…tulisan ini sangat-lah panjang, bahkan sebener-nya pada imel berikut-nya Pak Canny meng-analisa tentang temuan avtur…so, biar nggak terlalu cape baca-nya, gue bagi tiga aja ya…
 
analisa hilang-nya (drpd gue tulis "jatuh-nya") burung besi KI-574 ini sebener-nya pertama kali muncul di Harian Fajar terbitan Makassar Senin, 15 Januari 2007 tapi kemudian muncul lg di sini…setelah itu tulisan ini berlanjut ke milis2…mungkin malah anda jg udah lebih dulu baca… 

Saya tergerak untuk beranalisis mengingat semua analisis yang terpublikasi sejak kasus Adam Air ini terjadi belum ada yang menyertakan detil geografis, dalam artian mencocokkan informasi-informasi koordinat Lintang dan Bujur dengan kondisi alam yang mendekati riil di lapangan. Juga, belum ada yang berusaha memasukkan kesaksian-kesaksian warga secara runut. Saya masih percaya kalau warga pedesaan kita cukup jujur. Orang-orang yang kelewat pintar saja yang salah mengambil kesimpulan
dari kesaksian mereka.

Penemuan Tail Horizontal Stabilizer oleh nelayan Bakri di pantai Mallusetasi Kab. Barru memang penemuan yang sangat penting. Tetapi, sejauh ini belum ada yang berteriak "Eureka!", seperti yang dilakukan Archimedes beberapa ribu tahun yang lalu ketika menemukan hukum berat jenis benda. Bagi saya, yang iseng-iseng "mencari " pesawat nahas dengan nomor penerbangan KI-574 via layar komputer, temuan Pak Bakri memacu urat spontan saya berteriak Eureka!

(more…)

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket